Jogja, 5 September 2012 jam 10.17am
Kemaren sore saya mendapat pembelajaran,
Sore itu Simbah (nenek) yang sudah sejak siang maen ke rumah minta diantar pulang, pikir saya 'Alhamdulillah....semoga dapet pahala karena berbakti kepada orang tua', bener nggak tuh? Kalau surga memang ditelapak kaki Ibu maka sore itu saya mengantar biangnya surga, beliau adalah ibunya ibu saya...mantab!
Namanya orang tua ya isi percakapan di perjalanan pun kebanyakan berupa nasihat, dengan mencoba sesopan mungkin saya manut manut aja mendengarkan. Setelah menasehati segala lini kehidupan mulailah perbincangan agak menarik, karena arah pembicaraan berbelok ke evaluasi anak mantu beliau which is my parents and om tante semua.
Jumlah anak Simbah semuanya ada 10 orang, Ibu saya di nomor urut 3. Kehidupan dan pernikahan masing-masing anak berbeda-beda, "Gitu mas Put, punya anak kalau bisa komplit, ada yg pinter, ada yang haji, ada yang pejabat, dosen juga ada, tapi ada juga yang nakal, ada yang suka bikin pusing, ada juga yang hidupnya susah" saya cuma nyengir. "Ibumu itu lho..." waini evaluasi apa lagi nih.... "dulu waktu mau nikah sama bapakmu Mbah sebenernya nggak setuju" huwaduh... "sekarang jadinya ya gini...", mulai lagi Simbah menyinggung perceraian orang tua saya yang sebenarnya sudah terjadi sekitar 7 tahun lalu. "Om anu juga gitu, trus Tante anu juga dulunya mbah nggak sreg sama pilihannya" , aduh mbaah....
"Makanya sama orang tua jangan ngelawan..." Simbah menutup tema sore itu dengan kesimpulannya. "iya mbah...." cuma itu satu-satunya opsi terbaik jawaban saya.
Di perjalanan pulang saya bolak balik mikirin kata-kata simbah, faktor ridho orang tua memang sangat berpengaruh kepada seorang anak, dan secara sugesti bisa vital peranannya. Saat ini saya sudah mempunyai 2 orang anak yang masih kecil, rasanya memang ingin agar anak selalu menuruti kemauan saya dan istri sebagai orang tuanya, dan saat marah kepada mereka saya sering mengancam ini dan itu, "jangan maen game terus...nanti bla bla..." "ayo mandi! biar tidurnya nggak digigit tikus" dan lain lain.
Setelah percakapan tadi saya jadi berpikir ulang. Tanpa sadar sebagai orang tua kita diberi otoritas untuk mendidik anak dan juga diberi kekuasaan untuk mengutuk, mantab! Dan setiap kutukan kita sebagai orang tua tinggal menunggu persetujuan dari Yang Maha Kuasa untuk dilaksanakan oleh kuasa takdir. Wah, padahal anak saya yang laki-laki sedang mulai nakal-nakalnya nih.....bisa bahaya kalau saya keceplosan. Bisa jadi saat dia dewasa nanti akan banyak tindakannya yang bakal tidak saya restui which is dia akan menderita akibat ketidakridhoan saya sebagai orang tuanya.
Kesimpulan saya, boleh saja sebagai orang tua kita tidak setuju ini dan itu. Boleh saja kita tidak merestui keputusan anak kita. Tapi saat anak kita sudah melangkah dengan siap menanggung segala konsekuensi perbuatannya maka kita sebagai orang tua harus mendukungnya dan yang penting meridhoi pilihan hidupnya (kecuali yg jelas-jelas dilarang agama lho!).
Kenapa? Supaya anak kita tidak perlu menderita akibat kutukan kita....
Rabu, September 05, 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
