Rabu, Februari 16, 2011

DILARANG BERHENTI

Seberapa sering kita merasa bahwa hidup ini tak berjalan dengan baik? Seringkah kita merasa sedang sial? Berapa kali dalam sehari kita mengeluh? Apakah saat ini anda merasa bernasib kurang baik? Mungkin ada baiknya jalan-jalan refreshing sebentar....siapa tau kita mujur mendapat harta karun di pinggir jalan....

Melakoni perjalanan kehidupan hingga siang tadi, saya mendapati isi dompet saya hanya terdiri dari selembar lima ribuan dan beberapa lembar seribuan berhiaskan seringai lembut Kapiten Pattimura, jam sudah merapat bersatu di angka 12 menandakan waktu istirahat makan siang, perut sudah berontak memohon asupan untuk menyuplai energi ke otot yang sudah sejak pagi tidak diisi. Angkringan di pinggir jalanpun menjadi alternatif solusi, beruntung saya hidup di jogja yang memiliki katalog kuliner untuk segala tingkatan roda kehidupan, tidak peduli roda anda sedang berputar keatas ataupun kebawah di kota ini anda tetap memiliki menu yang kooperatif

Hitung punya hitung, sebungkus nasi kucing harganya seribu, tempe limaratusan, kerupuk lima ratus, dan es teh seribu. Kalau saya makan dua bungkus nasi kucing plus dua tempe bonus kerupuk dua dan segelas es teh totalnya semua 5000 rupiah, hmmm...cukuplah, perut kenyang dan masih ada beberapa lembar ribuan untuk jaga-jaga.

Maka mulailah menu makan siang dilahap dengan khidmat

Ditengah asyiknya menikmati makan siang masuklah ke tenda angkringan seorang ibu yang kira-kira berumur sekitar 45 tahun, berpakaian kumal membawa tas jinjing besar yang tak kalah kumalnya. Cerewetnya bukan main. Dalam hati saya menebak-nebak mungkin beliau seorang pemulung, pengemis atau mungkin semacam freelancer di pabrik tahu. Dan ternyata tebakan saya tidak meleset, saat ada wanita tua yang berjalan lewat di depan angkringan dia pun bercerita bahwa wanita tersebut sering berebut lahan mengemis dengannya di perumahan dekat situ. Itulah indahnya angkringan, anda bisa makan bersama siapapun di sana, bisa seorang pejabat, anak konglomerat, istri simpanan, ta’mir masjid ataupun residivis. Dan siang ini Allah menakdirkan saya untuk makan siang dengan seorang pengemis.

Dan dengan mantap sang ibu pengemis memesan seporsi mie instan serta segelas teh hangat. Sambil menikmati hidangannya dia terus mengobrol ngalor ngidul dengan penjual angkringan mulai dari ramainya jalanan hari ini hingga pasar malam sekaten yang hampir usai. Dengan tambahan lauk beberapa tempe nampaknya sudah cukup makan siangnya kali ini, dan seakan sudah terprogram dikeluarkannya botol air mineral ukuran kecil dari dalam tas lalu dituangkannya sisa teh hangat dari dalam gelas ke botol tersebut, pas sekali botol itu terisi dengan penuh sempurna. Saat dihitung menu makannya jumlahnyapun sempurna pas 5000 rupiah, pasti rutinitas ini sudah dilakukannya ratusan atau mungkin ribuan kali. Tak terlihat rasa mengeluh sedikitpun di wajahnya, tak terdengar protes –kecuali keluhannya akan lalu lintas yg semakin semrawut- dalam setiap kalimat yang terucap dari bibirnya. Aih, malunya diri ini, baru bokek barang sebentar saja sudah mengutuki nasib dan memaki-maki pejabat negara ini yang nggak becus menyejahterakan rakyatnya. Sementara yang bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan bisa terus menikmati hidup dan tak berhenti berusaha.

Jadi teringat para kuli bangunan yang sejak pagi saya awasi, merekapun hanya diupah 40.000 sehari, bekerja kasar dari pagi hingga petang itupun sudah termasuk makan siang ala kadarnya. Memang benar kata orang tua, sering-seringlah melihat ke bawah agar kita tidak pernah lupa mensyukuri apa yang telah Allah limpahkan kepada kita. Terkadang terlalu sering melihat ke atas hanya akan menyilaukan mata hingga kita tersilap tak mampu melihat begitu banyak hal yang terlimpah bagi kita. Rasanya semangat kembali meluap siang ini...terimakasih ya Allah, tak pernah lupa Engkau tunjukkan selalu hikmah di hari-hariku...

Alhamdulillah, masih ada beberapa lembar ribuan saat pulang bekerja sore ini, tak lupa mampir ke toko kelontong dekat rumah untuk membeli obat penurun panas buat Ano anakku. Dan sekali lagi hikmah itu muncul, kali ini hikmah itu muncul dalam wujud gantungan kunci, tanpa ragu kuhabiskan ribuan-ribuan sisa membeli obat untuk membeli gantungan kunci tersebut. Sebentuk gantungan kunci dari karet berlambang ala rambu lalu lintas dengan huruf S dicoret dan dibawahnya dengan tegas termaktub: JANGAN BERHENTI TUK MENGEJAR MIMPI

Tidak ada komentar: