Rabu, Mei 13, 2009

siang ini kusengaja duduk di teras kamar lantai tiga, secara sedang tidak tahu apa yang harus dikerjakan saking banyaknya beban pikiran yang menggelanyuti di setiap langkah,dan nampaknya cuaca sangat bersahabat dimana siang ini matahari tertutupi mendung dan angin begitu ramah menyapa mengelus perut yang semakin membuncit tak mampu menutupi akan terus bertambahnya usia, ahh...kursi goyang yang umurnya lebih tua dari umur anakku sudah siap membuai pejantan tambun ini menikmati sejuknya siang di jogja...sesuatu yang sudah sangat jarang terjadi

semenit dua menit semua nampaknya begitu tenang dan nyaman, sebatang gudang garam pun mulai turut andil menyempurnakan istirahat ala sinyo londo ini, dan yang istimewa sebenarnya adalah angin yang begitu sejuk bahkan terkadang cenderung dingin bertiup bergelombang tak henti-henti menyapa dan membuai...istimewa sekali bahkan rasanya sudah lama sekali angin seperti ini tidak kurasakan

di saat berikutnya barulah terasa perbedaan itu, di ketinggian yang tidak tertandingi oleh rumah tetangga ini ternyata baru kusadari bahwa angin memang berhembus lebih kencang bila kita berada di tempat yang lebih tinggi, jadi ingat cerita saudara yang baru pulang dari hongkong dan tinggal di apartemen lantai 40, bahkan disana gedungpun digoyangkan oleh angin, tidak heran rasanya angin ini lama-kelamaan mulai terasa sangat keras menerpa ditambah dengan efek suara dedaunan yang saling bergesekan keras dengan visual ranting yang terombang-ambing kesana kemari, jadi ingat juga kejadian angin puting beliung di seputaran UGM tempo hari yang menyebabkan kerusakan luar biasa, kenapa kali ini perlahan mulai kurasakan ketakutan akan kekuatan angin ini....suara atap seng rumah tetangga serasa guntur dan jemuran yang melambai semakin liar seakan hendak menerkamku, hingga perlahan tapi pasti teringat pula petuah semakin tinggi kita maka semakin kencang pula angin menerpa...yang berarti semakin tinggi posisi atau kedudukan kita maka semakin hebat pula cobaan dan ujian yang akan menerpa kita...jadi tambah takut nih...berarti kalo di tingkat tiga aja udah layak gini apalagi yang di tingkat 5-6-7..-40? wah di tingkat 3 aja nggak ku ku nih,rasanya belum pantas dong kunaik ke tingkat empat?

hmmm, pantesan....bisa dievaluasi lebih dalam nih...maka semakin dalam pula kuhisap rokok ini....sedalam teori ipoleksosbudhankam untuk evaluasi diri kali ini....

ideologi, rutinitas keagamaanku beberapa tahun terakhir sangat kendor bahkan diiming-imingi traktir makan mie ayam pun aku rela tidak sholat dhuhur.....pantesan mau nabung ONH kok nggak keturutan terus, dikasih kesempatan waktu luang untuk sholat dhuhur aja nggak digunakan (apalagi subuh) kok maunya naek haji...

politik, dalam beberapa tahun belakangan kegiatan organisasiku sangat lemah, bahkan untuk mengmbil keputusanpun takut salah.....pantesan posisinya jadi 'unthul' terus, lha wong jadi 'unthul' aja masih nggak becus kok maunya jadi sekjend PBB....

ekonomi, penghasilan agak seret nih, tiap ada duit dikit selalu kepake buat hal yang nggak perlu......pantesan bawanya receh terus, baru dapet agak banyak dikit udah dibuang-buang kok maunya diamanati milyaran...

sosial, udah lama kayaknya pergaulanku terbatas dan dari yg beberapa gelintir temanpun ada juga yg bermasalah....pantesan jarang ada yang mau menggauliku, lha wong dengan teman yg seadanya aja masih bermasalah dan suka egois kok maunya banyak yang nemenin terus...

dan seterusnya....
dan seterusnya....

hasilnya?
nampaknya posisi yang kualami saat ini memang belum pantas untuk menjadi orang yang hebat, kaya, terkenal, dihormati, terpandang, diperhitungkan, bak alim ulama

sebagai coro alias kecoak aja aku belum fasih jadi jangan dulu serakah menjadi babi apalagi memaksakan diri menjadi godzilla...

bisa diketawain lutung se-bonbin nih....wuiiiikikikikikkiii....