Alkisah di Negeri Seribu Satu Malam, Baginda Raja terlihat gusar sepanjang hari, hatinya sedang gundah gundala, beliau seharian hilir mudik tak jelas dan sesekali meracau tanpa makna. Hingga akhirnya beliau memanggil para penasihat kerajaan yang dalam tempo kurang dari 45 menit sudah hadir lengkap dengan laptop masing-masing plus sambungan wi-fi nya.
Belum genap para penasihat menduduki kursi masing-masing, sang Baginda sudah lebih dahulu menggertak “Coba jelaskan! Mengapa kisah kita sudah tidak laku lagi dipasaran???!!!!”. Sebagian penasihat raja yang sudah uzur dan lemah jantung sampai terloncat, baru kali ini baginda berteriak, terakhir kali beliau menghardik adalah saat ambeien beliau salah dioperasi oleh dukun alternatip asal Bumiayu. Salah satu penasihat tertua kerajaan pun memberanikan diri untuk bicara “Beribu maaf Yang Mulia, tenangkanlah dulu gemuruh batin Baginda, agar kita semua bisa tahu dengan lebih seksama ada apa gerangan permasalahan yg nampaknya sangat gawat ini”. Tiba-tiba…Brakkk!!! Baginda raja menghentak mejanya (beberapa penasehat uzur langsung pingsan dan segera dibopong keluar), “Coba baca report ini!” kata beliau seraya mengirimkan file report yang dimaksud dengan bluetooth ke semua laptop penasehatnya. Segeralah ruangan menjadi gaduh karena masing-masing penasehat membaca, mengamati, membelalak, melenguh, dan kemudian sebagian menggeleng-gelengkan kepala tanda prihatin, sebagian mulai berdiskusi, dan tak lama kemudian semua terdiam tidak tahu harus bagaimana.
Report yang dimaksud baginda raja adalah report bulanan aset kerajaan itu. Dan FYI aset terbesar dan juga aset utama kerajaan itu adalah dongeng SERIBU SATU MALAM yang legendaris itu. Ternyata dalam tempo kurang dari seminggu aset dongeng kerajaan telah jatuh harganya, harga indeks saham gabungan diseluruh dunia terutama di BEJ untuk SERIBU SATU MALAM co. jatuh ketitik terendah sepanjang sejarah. Buku-buku mereka di pasaran bulan ini tidak laku, bahkan para ibu, menurut survey kak Seto n friends, tidak mau lagi mendongengkan Alibaba dan semacamnya. Gambar dan video tentang kebesaran kisah kerajaan itu jarang lagi ada yang mengunduh di internet.
“Apa-apaan ini??!!! Siapa bisa memberi penjelasan padaku?” kembali baginda meninggikan suaranya. Para penasehat pun kembali terdiam tak satupun berani bicara bahkan menarik napaspun kesulitan, karena selama ini mereka hidup dalam kemewahan dan jarang sekali mendapatkan masalah sehingga lama-kelamaan mereka tidak waspada saat kerajaan dalam bahaya. Dan dari puluhan penasehat kerajaan hanya satu yang nampak sangat gugup dan berulang kali mengusap peluh di wajahnya serta sekali-sekali melirik ke arah singgasana berharap agar baginda raja tidak melihat dirinya. Namun insting seorang raja tak bisa ditipu, beliau tahu ada hal penting yang diketahui si penasehat gelisah itu. “Hei kamu,” beliau menuding si penasehat “katakan segera apa yang kau ketahui! Jika tidak badanmu akan kujadikan makanan si Popo!” . SI (Sekedar Info) Popo adalah kelinci kesayangan baginda raja yang disulap dari vegetarian menjadi karnivora sejati. Maka tak ayal si pensehat pun semakin menggigil ketakutan. “Ampuun beribu ampun Yang Mulia, hamba akan berusaha menjawab apapun yang Baginda tanyakan”, diapun melanjutkan sebelum baginda keburu membentak, “sudah sejak beberapa hari ini hamba mengamati dan menemukan penyebab jatuhnya nama dongeng SERIBU SATU MALAM”. Raja pun spontan berteriak “Katakan apa dan siapa penyebabnya?!!!” alisnya naik dan matanya terbelalak penasaran. Sang penasehat pun melanjutkan “Kisah kita ternyata dikalahkan oleh kisah baru di pasaran” kali ini semua yang ada di ruangan itu terbelalak “Kisah ini ternyata lebih hebat, karena dalam TIGA HARI ada SEJUTA KISAH”, ruangan pun menjadi gaduh hingga raja memberi isyarat agar semua diam dan agar si penasehat meneruskan penjelasannya, “ampun Baginda, begitulah kenyataannya dan nampaknya kisah-kisah mereka up to date, penuh gambar dan membuat pembacanya menjadi gembira”.
“Hmmm, tak kusangka ada yang bisa sebegitu hebat di dunia ini, bahkan setelah kita singkirkan para pendongeng besar seperti Agatha Kristi, John Grisam, Fredy eS, AnyErrow, NickKarter, dan lainnya” gumam sang raja, beliau pun bertanya “Apa mereka juga raja seperti aku?” Sang penasehat menjawab “Ampun Baginda, mereka rakyat biasa” Raja kembali bertanya, “apakah mereka paranormal atau punya sihir tertentu?”
“Tidak Baginda, mereka normal walaupun sebagian besar terkadang abnormal namun sihir juga tidak mereka punya selain sedikit sulap dan seni debus”
Rasa penasaran Baginda Raja bertambah, “Lalu, apa mereka memiliki kelebihan khusus seperti kekayaan berlimpah, kekuatan super, atau keelokan nan rupawan?”
Sang penasehat menjawab “Tidak ada Yang Mulia, mereka bukanlah golongan tajirun seperti yang dituduhkan, juga tidak memiliki kekuatan yang super tapi kalau kelebihan berat badan sih banyak, dan hanya satu dua yang layak menjadi model cover buku kita itupun sudah ada yang punya”. Ia pun melanjutkan penjelasannya “Mereka nampaknya sebuah keluarga besar yang memiliki kesamaan dalam mencintai sebuah klub sepakbola”
“Masa’ iya?” tanya sang raja
“Ya iyyalah…” sahut si penasehat
“Jangan-jangan, mereka punya mantra?”
“ah…paling pol juga mereka nyanyi bareng Baginda, bikin lagu aja di bis malam”
“Hussy, jangan becanda kamu, apa klub itu sering juara akhir-akhir ini?”
“Ampun Baginda, itulah yang bikin saya heran, sudah 18 tahun lebih klub itu tidak juara liga”
“Lho, apa klub itu menurutmu amat sangat hebat??”
“biasa aja Baginda, manajernya aja perutnya buncit, pemaennya juga biasa, kemaren waktu hamba jalan-jalan kesana mereka nggak istimewa, bahkan untuk membantu keuangan keluarga salah satu pemaen ada yg buka warung, satunya lagi saya temui malah lagi foto-foto ama fans pas lagi jalan-jalan….” Iapun melanjutkan “menurut hamba saat curi dengar dengan satelit spy kita, mereka memiliki hal yang luar biasa namun hamba sendiri belum paham maksudnya, salah satu diantara mereka mengucapkan pesyen-pesyen-pesyen sebanyak tiga kali” Raja pun kehilangan kesabaran “Itu Passion!” serunya saat menyadari si penasehat bukanlah ahli bahasa,
Serta merta Sang Raja pun bergumam “Rupanya itu salah satu modal mereka, aku nggak habis pikir bagaimana mereka yang tidak punya banyak kelebihan bisa sedemikian hebat membuat begitu banyak cerita indah hanya dalam tempo tiga hari” rupanya sang Raja mulai terkesan dan tertarik akan komunitas ini.
Sang Penasehat pun mengulas sambil menerawang,
“Menurut analisa hamba, semuanya bagai bongkahan batu kali pilihan yang tersebar hingga kemudian energi alam semesta telah mengumpulkan batu-batu itu dalam pilihan waktu yang tepat dan berada dalam tangan-tangan empu pemahat yang tepat pula sehingga tertata terbangun dalam suatu monumen candi yang luar biasa indah sehingga siapapun akan selalu terkenang saat berada di dalamnya bahkan batu lain sejenispun akan merasa bahwa mereka adalah juga bagian dari candi itu” kemudian sambil menerawang si penasehat meneruskan “kota yang indah berisi insan yang ramah cekatan, para tamu yang istimewa dengan segala tingkah yang luar biasa istimewa, disempurnakan dengan waktu yang sangat tepat dengan segala hasil pertandingan yang hebat saat tahun berganti, sebuah komunitas yang pantas menjadi keluarga, keluarga besar yang memiliki kebanggaan (pride), identitas (the Reds), dan kebersamaan (always together), mereka memang pantas disebut keluarga (family) bahkan saat tidak berada disitu” katanya sambil menerawang seakan mengamini bagaimana sejuta kisah itu bisa tercipta.
Tak terasa air mata menetes dari pelupuk mata sang penasehat kerajaan tersebut, bahkan sang raja pun tak dapat menyembunyikan rasa harunya sehingga serta merta beliau beranjak dari singgasana dan menghampiri si penasehat dan berbisik
“kenalkan aku pada mereka……”
Jogja, 010109
00 00 0031
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar