saat ini, ya sekarang ini, saat anda membaca tulisan ini....apakah kondisi anda sesuai dengan yang anda impikan sedari kecil? Apakah anda sudah benar-benar mencapainya atau berpuas diri hanya karena sudah berusaha mencapainya?
Monggo silahkan di reply supaya bisa saya survey prosentasenya, apakah sebagian besar mengecewakan atau malah lebih dari yang diimpikan. Tidak perlu malu atau gengsi karena di alinea seterusnya saya yang akan curhat tentang mimpi-mimpi indah yang sudah dibangun sedjak doeloe.
Biarkan air mengalir, bumi berputar, angin berhembus dan alam melanjutkan siklusnya, begitulah selalu didengungkan para sahabat, handai taulan dan orang-orang disekeliling saya. Pada dasarnya memang kata-kata cenderung pasrah itulah yang menjadi favorit saya agar ringan melakoni setiap babak dalam lakon panggung sandiwara semesta ini. Sangat jarang bagi saya untuk memaksakan diri melakukan sesuatu atau berinisiatif untuk mengubah hal-hal yang nampaknya sudah terplot indah dalam kegiatan sehari-hari, sudah barang tentu ini bukan hal yang bagus untuk ditiru, siapa yang sudi hidup hanya selalu menuruti dan membahagiakan keinginan orang disekitarnya. Namun siapa yang bisa mengukur kadar kebahagiaan seseorang? Hanya yang melakoni sendirilah yang mampu menjiwai dan mengukur kebahagiaannya.
Kembali ke masalah mimpi tadi, sejak membaca beberapa buku dan diskusi dengan banyak teman saya kembali mempercayai bahwa mimpi yang sudah terpatri sejak kecil bukanlah hal yang sepele. Mimpi dan angan-angan itu secara bawah sadar dan namun konsisten menuntun mata saya untuk suka menonton setiap pertandingan sepak bola dan analisa pertandingannya, mengajak telinga untuk mendengarkan teori-teori finansial, menggoda jari tangan untuk selalu menulis di setiap media yang ada, juga melatih mental untuk senantiasa bersabar saat menghadapi orang maupun menjelaskan sesuatu. Otak ini terstimulus untuk terus mengejar angan-angan saya sedari kecil untuk memiliki sebuah tim sepakbola, menjadi wartawan, mengabdi sebagai guru SD, serta menjadi pengusaha. Walaupun saat melakukan nonton bola, menulis karya, mengajari iqro' , maupun berinvestasi saya sama sekali tidak bermaksud untuk dalam rangka mengejar cita-cita (di Indonesia asal masih bisa makan ayam udah hebat lah....).
Saat membuka lowongan staff kemaren tiba-tiba saya dihantam kenyataan betapa banyak rakyat kita yang harus bekerja karena dipaksa kondisi, efeknya adalah kita harus bersedia bekerja walaupun bukan pada bidang yang kita inginkan. Badan Pusat Statistik menyebutkan tidak kurang dari 111 juta rakyat indonesia (diatas 15 tahun) yang bekerja sebagai buruh (pekerja) industri sementara 54 juta orang bekerja non industri (guru, pembantu, dll), yang belum beruntung 9,5 jutaan masih nganggur dari 165 juta populasi rakyat usia kerja. Sekali lagi kondisilah yang mengharuskan kita semua untuk mencoba bertahan hidup dengan cara kita masing-masing. Ditengah himpitan kehidupan inilah yang membuat mimpi dan angan-angan kita terus memompa semangat agar kita terus tersenyum karena hari ini kita selangkah lebih dekat mencapai tujuan.
Boro-boro menggapai impian, untuk bisa makan hari ini saja kita masih hutang ke teman. Belum lagi beli pulsa atau membelikan anak kita mainan. Musim mantenan pun kita bingung mau mementingkan belanja dapur atau buat ngisi amplop sumbangan. Tapi justru saat berjuang inilah kita dituntut untuk terus mensyukuri titik yang sudah kita capai saat ini. Lihatlah kebawah, masih sangat banyak yang hidupnya sengsara, berapa banyak yang merasa dirinya benar karena telah mencuri, berapa banyak yang merasa sah mengambil rejeki orang lain, belum lagi yang terbahak-bahak saat bisa menipu orang lain untuk mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya. Apa itu cita-cita mereka? Jelas bukan. Bahkan anak babi pun tidak pernah bermimpi di masa kecilnya untuk diharamkan.
Harus diakui saya masih jauh dari sekedar bisa memiliki sebuah tim sepak bola yang menghibur rakyat, masih belum sekuku hitam untuk mampu menulis di surat kabar, belum pantas untuk berdiri mengajarkan ilmu di bangku SD, apalagi cocok untuk dianggap pengusaha hebat. Setidaknya saya punya tim Liverpool di game Fantasy Manager, saya bisa menulis di sini, saya mengajari anak saya baca Iqro' , saya punya kartu nama perusahaan......lumayan lah, hari ini saya selangkah lagi mendekati impian. Dan saya terus mengejarnya, selama air masih mengalir, bumi terus berputar, angin tetap berhembus, dan semesta meneruskan energinya maka energi yang terus kita pancarkan akan menyebar dan menangkap energi dari semesta sehingga diteruskan kearah yang semestinya. Mengapa anda harus berhenti bermimpi? Toh, untuk bermimpi di Indonesia Raya ini belum ada pajaknya.......
Biarkan air mengalir, bumi berputar, angin berhembus dan alam melanjutkan siklusnya, begitulah selalu didengungkan para sahabat, handai taulan dan orang-orang disekeliling saya. Pada dasarnya memang kata-kata cenderung pasrah itulah yang menjadi favorit saya agar ringan melakoni setiap babak dalam lakon panggung sandiwara semesta ini. Sangat jarang bagi saya untuk memaksakan diri melakukan sesuatu atau berinisiatif untuk mengubah hal-hal yang nampaknya sudah terplot indah dalam kegiatan sehari-hari, sudah barang tentu ini bukan hal yang bagus untuk ditiru, siapa yang sudi hidup hanya selalu menuruti dan membahagiakan keinginan orang disekitarnya. Namun siapa yang bisa mengukur kadar kebahagiaan seseorang? Hanya yang melakoni sendirilah yang mampu menjiwai dan mengukur kebahagiaannya.
Kembali ke masalah mimpi tadi, sejak membaca beberapa buku dan diskusi dengan banyak teman saya kembali mempercayai bahwa mimpi yang sudah terpatri sejak kecil bukanlah hal yang sepele. Mimpi dan angan-angan itu secara bawah sadar dan namun konsisten menuntun mata saya untuk suka menonton setiap pertandingan sepak bola dan analisa pertandingannya, mengajak telinga untuk mendengarkan teori-teori finansial, menggoda jari tangan untuk selalu menulis di setiap media yang ada, juga melatih mental untuk senantiasa bersabar saat menghadapi orang maupun menjelaskan sesuatu. Otak ini terstimulus untuk terus mengejar angan-angan saya sedari kecil untuk memiliki sebuah tim sepakbola, menjadi wartawan, mengabdi sebagai guru SD, serta menjadi pengusaha. Walaupun saat melakukan nonton bola, menulis karya, mengajari iqro' , maupun berinvestasi saya sama sekali tidak bermaksud untuk dalam rangka mengejar cita-cita (di Indonesia asal masih bisa makan ayam udah hebat lah....).
Saat membuka lowongan staff kemaren tiba-tiba saya dihantam kenyataan betapa banyak rakyat kita yang harus bekerja karena dipaksa kondisi, efeknya adalah kita harus bersedia bekerja walaupun bukan pada bidang yang kita inginkan. Badan Pusat Statistik menyebutkan tidak kurang dari 111 juta rakyat indonesia (diatas 15 tahun) yang bekerja sebagai buruh (pekerja) industri sementara 54 juta orang bekerja non industri (guru, pembantu, dll), yang belum beruntung 9,5 jutaan masih nganggur dari 165 juta populasi rakyat usia kerja. Sekali lagi kondisilah yang mengharuskan kita semua untuk mencoba bertahan hidup dengan cara kita masing-masing. Ditengah himpitan kehidupan inilah yang membuat mimpi dan angan-angan kita terus memompa semangat agar kita terus tersenyum karena hari ini kita selangkah lebih dekat mencapai tujuan.
Boro-boro menggapai impian, untuk bisa makan hari ini saja kita masih hutang ke teman. Belum lagi beli pulsa atau membelikan anak kita mainan. Musim mantenan pun kita bingung mau mementingkan belanja dapur atau buat ngisi amplop sumbangan. Tapi justru saat berjuang inilah kita dituntut untuk terus mensyukuri titik yang sudah kita capai saat ini. Lihatlah kebawah, masih sangat banyak yang hidupnya sengsara, berapa banyak yang merasa dirinya benar karena telah mencuri, berapa banyak yang merasa sah mengambil rejeki orang lain, belum lagi yang terbahak-bahak saat bisa menipu orang lain untuk mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya. Apa itu cita-cita mereka? Jelas bukan. Bahkan anak babi pun tidak pernah bermimpi di masa kecilnya untuk diharamkan.
Harus diakui saya masih jauh dari sekedar bisa memiliki sebuah tim sepak bola yang menghibur rakyat, masih belum sekuku hitam untuk mampu menulis di surat kabar, belum pantas untuk berdiri mengajarkan ilmu di bangku SD, apalagi cocok untuk dianggap pengusaha hebat. Setidaknya saya punya tim Liverpool di game Fantasy Manager, saya bisa menulis di sini, saya mengajari anak saya baca Iqro' , saya punya kartu nama perusahaan......lumayan lah, hari ini saya selangkah lagi mendekati impian. Dan saya terus mengejarnya, selama air masih mengalir, bumi terus berputar, angin tetap berhembus, dan semesta meneruskan energinya maka energi yang terus kita pancarkan akan menyebar dan menangkap energi dari semesta sehingga diteruskan kearah yang semestinya. Mengapa anda harus berhenti bermimpi? Toh, untuk bermimpi di Indonesia Raya ini belum ada pajaknya.......
