musim hujan datang lagi, tiada hari tanpa tetesan hujan menerpa wajah, mulai keluar lagi tetesan air dari eternit dibawah genteng yang bocor, kembali banyak jadwal traveling yang berubah karena terhambat hujan, bahkan bukan cuma air....tahun ini ketambahan angin puting beliung yang menumbangkan banyak pohon dan baliho yang menimbulkan kerugian 12 milyar! Itu baru di Jogja, belom lagi kalo memasuki pertengahan musim siap-siap aja baca berita banjir,longsor,angin ribut,badai, atau mungkin tersambar petir......na'udzubillahi min dzalik!
nggak tau nih sial apa bukan, tapi waktu sedang asik-asiknya nonton hilight liga champions di tivi kantor kok tiba-tiba ada sales kartu kredit dateng, sebenernya nyariin si bos tapi ternyata yang dicari udah pulang duluan, maka jadilah saya yang menemui sang sales sebagai target market selanjutnya, awalnya sih basa basi doang mungkin karena liat muka saya yang kurang welcome dianya cuma nawarin aja, tapi saat mau pamitan.....alamak....hujan!
alih-alih mau pamitan dianya jadi duduk dan mulai fokus ke saya sebagai pelampiasan karena janji temunya dengan calon klien di tempat lain batal gara-gara hujan, mulailah penjelasan tentang kemudahan-keunggulan-keistimewaan hingga cerita seputar kartu kredit Z dijabarkan, hebatnya lagi dia bisa menghubung-hubungkan antara penggunaan kartu kredit dengan sepakbola, mungkin dia tau kalo saya lagi konsen liat gol-gol liga champions, jadi mau nggak mau tetep noleh deh, mau tahu apa yang lebih mengherankan? setelah gagal merayu saya di kartu kredit X yang terdahulu kali ini dia menawarkan merk Z bahkan dia siap membantu di kartu kredit Y....betapa hebatnya perusahaan yang mempekerjakannya....
ah, tetapi gol nya Kone dan Niang saat melawan PSV tidak membuat saya beralih konsentrasi sehingga sang sales terdiam....nah gitu dong, nunggu hujan aja kok berisik, 3 detik berlalu tiba-tiba beliau bertanya "pernah nyoba MLM mas?"....Oo'oo....gubrak! mulai deh merk MLM A dipromosikan, lalu dilanjutkan MLM cap B, sampai cerita orang yang perbulan pendapatannya 3 milyar! males banget ndengerinnya....tapi saya bisa cerita gini berarti saya ndengerin juga kan? sial! "iya mas....kita nggak usah kerja kalo pohon kita udah ada rantingnya, pokoknya tinggal metik aja uangnya...."
kemaren, saat jalan-jalan dengan anak saya di mall tiba-tiba anak saya diberi boneka ikan, anak mana yang menolak? maka KTP saya pun diminta untuk difoto kopi dan dalam kurun waktu tidak lebih dari 5 menit data saya sudah diaplikasi untuk pengajuan kartu kredit merk F, dan sekarang kartunya udah nangkring di dompet tanpa saya paham harus buat apa, padahal untuk iuran tahunannya saya harus keluar 150 rebu! uang segitu bisa buat beli boneka ikan 5 biji mas!
dulu setelah keluar dari loket pembayaran tagihan telpon seluler langsung dipromosikan kartu kredit untuk autodebetnya, sampai didatangi ke kantor dan nona sales belum menyerah berjuang hingga akhirnya formulirnya telah berisi tanda tangan saya
saat sedang anget-angetnya mendukung tim asal inggris kesayanganpun, kok ya sempat ditawari kartu kredit yang gambarnya sang pemain favorit saya, duh....
maaf ya buat teman-teman sales kartu kredit, sama sekali anda bukan pihak yang dipersalahkan (kalo ada yang cara cari konsumennya maksa itupun hanya sebagian oknum saja) karena di Indonesia ini dapat disimpulkan sebagian besar bekerja karena dipaksa oleh keadaan sehingga apapun pekerjaannya asal halal dan bisa bikin dapur ngepul sih sah-sah saja, apalagi teman-teman dibebani target penjualan yang tidak ringan, sistem kapitalis dengan pola egopsikoekonomik (halah....) yang cenderung tidak peka sosial dari perusahaan multinasional ternyata menyerbu seenak udel ke segala penjuru dunia
sebagai warga negara dunia ketiga yang katanya sedang berkembang ini, apa jadinya kalau kita terus menerus dipaksa untuk menjadi penghutang, tidak heran pula kalau pola konsumsi kita meningkat pesat, dan itu ditempuh dengan cara berhutang! satu persatu leher kita dikalungi tali jerat siap untuk mencekik setiap akhir bulan dan sehingga kita dicambuk lebih keras untuk bekerja lebih ngoyo lagi bukan untuk mencari sesuap nasi tapi untuk sekedar melonggarkan tali di leher agar kita masih bisa bernapas bulan ini.....
dengan segala sistem baku yang ternyata sangat mudah untuk diakali, apalagi di negara kita ini yang apapun pasti bisa diakali mulai dari tambal ban, meteran listrik, argo taksi, absen kuliah, ijasah, pendaftaran cpns, bahkan sampai pengadilan dan kasus korupsi, apalagi kalo cuman kartu kredit....gampang buanget kata si setan kartu kredit.....
data yang saya dapat menyatakan nilai transaksi kartu kredit pada 2007 mencapai Rp 72,6 triliun. Itu berarti meningkat dibandingkan transaksi pada 2006 senilai Rp 58,36 triliun. Peningkatan transaksi juga diikuti lonjakan NPL (alias kredit macetnya) kartu kredit dari 8,96 persen(alias 2,15 triliun) pada 2006 menjadi 11,85 persen (alias 3,18 triliun!!!) pada 2007.
sedangkan jumlah kartu kredit yang diterbitkan hingga akhir 2007 mencapai 9.148.104 keping atau naik dibandingkan 8.276.761 keping pada 2006.
sebagai masyarakat yang awam terhadap hal-hal perkreditan dan aturan moneter jelas aja tawaran sales dan kemudahan untuk berhutang menggugah minat terutama yg oportunis kayak saya untuk cari talangan termudah saat ada kebutuhan mendadak, tapi dibalik itu semua dengan cara yang tidak transparan dan sosialisasi aturan maen yang tidak menyeluruh pantas saja kalau saya merasa diakali oleh para setan kartu kredit
belom lama saya melamuin tiba-tiba telepon berdering, setelah saya angkat terdengar suara yang tidak asing bertanya "selamat siang pak Indra, waah susah banget dihubungi, ini aplikasi yang bapak minta sudah saya siapkan dan siang ini saya ke kantor bapak ya? nanti bapak tinggal tanda tangan saja dan ditunggu nggak sampai seminggu kartu kredit "SetanBank" akan segera jadi, bisa pak? jam 2 ya?......"
buset....kapan saya minta aplikasi? jangan-jangan yang ini setan beneran nih.....???
Senin, November 10, 2008
Rabu, Oktober 22, 2008
Mimpi
Teman-teman....saya ingin nanya nih,
saat ini, ya sekarang ini, saat anda membaca tulisan ini....apakah kondisi anda sesuai dengan yang anda impikan sedari kecil? Apakah anda sudah benar-benar mencapainya atau berpuas diri hanya karena sudah berusaha mencapainya?
saat ini, ya sekarang ini, saat anda membaca tulisan ini....apakah kondisi anda sesuai dengan yang anda impikan sedari kecil? Apakah anda sudah benar-benar mencapainya atau berpuas diri hanya karena sudah berusaha mencapainya?
Monggo silahkan di reply supaya bisa saya survey prosentasenya, apakah sebagian besar mengecewakan atau malah lebih dari yang diimpikan. Tidak perlu malu atau gengsi karena di alinea seterusnya saya yang akan curhat tentang mimpi-mimpi indah yang sudah dibangun sedjak doeloe.
Biarkan air mengalir, bumi berputar, angin berhembus dan alam melanjutkan siklusnya, begitulah selalu didengungkan para sahabat, handai taulan dan orang-orang disekeliling saya. Pada dasarnya memang kata-kata cenderung pasrah itulah yang menjadi favorit saya agar ringan melakoni setiap babak dalam lakon panggung sandiwara semesta ini. Sangat jarang bagi saya untuk memaksakan diri melakukan sesuatu atau berinisiatif untuk mengubah hal-hal yang nampaknya sudah terplot indah dalam kegiatan sehari-hari, sudah barang tentu ini bukan hal yang bagus untuk ditiru, siapa yang sudi hidup hanya selalu menuruti dan membahagiakan keinginan orang disekitarnya. Namun siapa yang bisa mengukur kadar kebahagiaan seseorang? Hanya yang melakoni sendirilah yang mampu menjiwai dan mengukur kebahagiaannya.
Kembali ke masalah mimpi tadi, sejak membaca beberapa buku dan diskusi dengan banyak teman saya kembali mempercayai bahwa mimpi yang sudah terpatri sejak kecil bukanlah hal yang sepele. Mimpi dan angan-angan itu secara bawah sadar dan namun konsisten menuntun mata saya untuk suka menonton setiap pertandingan sepak bola dan analisa pertandingannya, mengajak telinga untuk mendengarkan teori-teori finansial, menggoda jari tangan untuk selalu menulis di setiap media yang ada, juga melatih mental untuk senantiasa bersabar saat menghadapi orang maupun menjelaskan sesuatu. Otak ini terstimulus untuk terus mengejar angan-angan saya sedari kecil untuk memiliki sebuah tim sepakbola, menjadi wartawan, mengabdi sebagai guru SD, serta menjadi pengusaha. Walaupun saat melakukan nonton bola, menulis karya, mengajari iqro' , maupun berinvestasi saya sama sekali tidak bermaksud untuk dalam rangka mengejar cita-cita (di Indonesia asal masih bisa makan ayam udah hebat lah....).
Saat membuka lowongan staff kemaren tiba-tiba saya dihantam kenyataan betapa banyak rakyat kita yang harus bekerja karena dipaksa kondisi, efeknya adalah kita harus bersedia bekerja walaupun bukan pada bidang yang kita inginkan. Badan Pusat Statistik menyebutkan tidak kurang dari 111 juta rakyat indonesia (diatas 15 tahun) yang bekerja sebagai buruh (pekerja) industri sementara 54 juta orang bekerja non industri (guru, pembantu, dll), yang belum beruntung 9,5 jutaan masih nganggur dari 165 juta populasi rakyat usia kerja. Sekali lagi kondisilah yang mengharuskan kita semua untuk mencoba bertahan hidup dengan cara kita masing-masing. Ditengah himpitan kehidupan inilah yang membuat mimpi dan angan-angan kita terus memompa semangat agar kita terus tersenyum karena hari ini kita selangkah lebih dekat mencapai tujuan.
Boro-boro menggapai impian, untuk bisa makan hari ini saja kita masih hutang ke teman. Belum lagi beli pulsa atau membelikan anak kita mainan. Musim mantenan pun kita bingung mau mementingkan belanja dapur atau buat ngisi amplop sumbangan. Tapi justru saat berjuang inilah kita dituntut untuk terus mensyukuri titik yang sudah kita capai saat ini. Lihatlah kebawah, masih sangat banyak yang hidupnya sengsara, berapa banyak yang merasa dirinya benar karena telah mencuri, berapa banyak yang merasa sah mengambil rejeki orang lain, belum lagi yang terbahak-bahak saat bisa menipu orang lain untuk mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya. Apa itu cita-cita mereka? Jelas bukan. Bahkan anak babi pun tidak pernah bermimpi di masa kecilnya untuk diharamkan.
Harus diakui saya masih jauh dari sekedar bisa memiliki sebuah tim sepak bola yang menghibur rakyat, masih belum sekuku hitam untuk mampu menulis di surat kabar, belum pantas untuk berdiri mengajarkan ilmu di bangku SD, apalagi cocok untuk dianggap pengusaha hebat. Setidaknya saya punya tim Liverpool di game Fantasy Manager, saya bisa menulis di sini, saya mengajari anak saya baca Iqro' , saya punya kartu nama perusahaan......lumayan lah, hari ini saya selangkah lagi mendekati impian. Dan saya terus mengejarnya, selama air masih mengalir, bumi terus berputar, angin tetap berhembus, dan semesta meneruskan energinya maka energi yang terus kita pancarkan akan menyebar dan menangkap energi dari semesta sehingga diteruskan kearah yang semestinya. Mengapa anda harus berhenti bermimpi? Toh, untuk bermimpi di Indonesia Raya ini belum ada pajaknya.......
Biarkan air mengalir, bumi berputar, angin berhembus dan alam melanjutkan siklusnya, begitulah selalu didengungkan para sahabat, handai taulan dan orang-orang disekeliling saya. Pada dasarnya memang kata-kata cenderung pasrah itulah yang menjadi favorit saya agar ringan melakoni setiap babak dalam lakon panggung sandiwara semesta ini. Sangat jarang bagi saya untuk memaksakan diri melakukan sesuatu atau berinisiatif untuk mengubah hal-hal yang nampaknya sudah terplot indah dalam kegiatan sehari-hari, sudah barang tentu ini bukan hal yang bagus untuk ditiru, siapa yang sudi hidup hanya selalu menuruti dan membahagiakan keinginan orang disekitarnya. Namun siapa yang bisa mengukur kadar kebahagiaan seseorang? Hanya yang melakoni sendirilah yang mampu menjiwai dan mengukur kebahagiaannya.
Kembali ke masalah mimpi tadi, sejak membaca beberapa buku dan diskusi dengan banyak teman saya kembali mempercayai bahwa mimpi yang sudah terpatri sejak kecil bukanlah hal yang sepele. Mimpi dan angan-angan itu secara bawah sadar dan namun konsisten menuntun mata saya untuk suka menonton setiap pertandingan sepak bola dan analisa pertandingannya, mengajak telinga untuk mendengarkan teori-teori finansial, menggoda jari tangan untuk selalu menulis di setiap media yang ada, juga melatih mental untuk senantiasa bersabar saat menghadapi orang maupun menjelaskan sesuatu. Otak ini terstimulus untuk terus mengejar angan-angan saya sedari kecil untuk memiliki sebuah tim sepakbola, menjadi wartawan, mengabdi sebagai guru SD, serta menjadi pengusaha. Walaupun saat melakukan nonton bola, menulis karya, mengajari iqro' , maupun berinvestasi saya sama sekali tidak bermaksud untuk dalam rangka mengejar cita-cita (di Indonesia asal masih bisa makan ayam udah hebat lah....).
Saat membuka lowongan staff kemaren tiba-tiba saya dihantam kenyataan betapa banyak rakyat kita yang harus bekerja karena dipaksa kondisi, efeknya adalah kita harus bersedia bekerja walaupun bukan pada bidang yang kita inginkan. Badan Pusat Statistik menyebutkan tidak kurang dari 111 juta rakyat indonesia (diatas 15 tahun) yang bekerja sebagai buruh (pekerja) industri sementara 54 juta orang bekerja non industri (guru, pembantu, dll), yang belum beruntung 9,5 jutaan masih nganggur dari 165 juta populasi rakyat usia kerja. Sekali lagi kondisilah yang mengharuskan kita semua untuk mencoba bertahan hidup dengan cara kita masing-masing. Ditengah himpitan kehidupan inilah yang membuat mimpi dan angan-angan kita terus memompa semangat agar kita terus tersenyum karena hari ini kita selangkah lebih dekat mencapai tujuan.
Boro-boro menggapai impian, untuk bisa makan hari ini saja kita masih hutang ke teman. Belum lagi beli pulsa atau membelikan anak kita mainan. Musim mantenan pun kita bingung mau mementingkan belanja dapur atau buat ngisi amplop sumbangan. Tapi justru saat berjuang inilah kita dituntut untuk terus mensyukuri titik yang sudah kita capai saat ini. Lihatlah kebawah, masih sangat banyak yang hidupnya sengsara, berapa banyak yang merasa dirinya benar karena telah mencuri, berapa banyak yang merasa sah mengambil rejeki orang lain, belum lagi yang terbahak-bahak saat bisa menipu orang lain untuk mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya. Apa itu cita-cita mereka? Jelas bukan. Bahkan anak babi pun tidak pernah bermimpi di masa kecilnya untuk diharamkan.
Harus diakui saya masih jauh dari sekedar bisa memiliki sebuah tim sepak bola yang menghibur rakyat, masih belum sekuku hitam untuk mampu menulis di surat kabar, belum pantas untuk berdiri mengajarkan ilmu di bangku SD, apalagi cocok untuk dianggap pengusaha hebat. Setidaknya saya punya tim Liverpool di game Fantasy Manager, saya bisa menulis di sini, saya mengajari anak saya baca Iqro' , saya punya kartu nama perusahaan......lumayan lah, hari ini saya selangkah lagi mendekati impian. Dan saya terus mengejarnya, selama air masih mengalir, bumi terus berputar, angin tetap berhembus, dan semesta meneruskan energinya maka energi yang terus kita pancarkan akan menyebar dan menangkap energi dari semesta sehingga diteruskan kearah yang semestinya. Mengapa anda harus berhenti bermimpi? Toh, untuk bermimpi di Indonesia Raya ini belum ada pajaknya.......
Sabtu, Agustus 16, 2008
constructions in progress
silahkan memberikan saran dan pesan selama pengerjaan awal blog ini
mohon maaf atas ketidaknyamanannya
mohon maaf atas ketidaknyamanannya
Langganan:
Postingan (Atom)
